Pages

FRIEND be LOVE


Di salah satu sekolah di SURABAYA ,ada sekelompok sahabat yang di iri oleh banyak kawannya di kelas gara2 kekompakan mereka AYVA itu aku, NAYMAL , TINA, NIA and RATNA. Kita  udah bersahabatan sejak kelas X.
“hey Va, tumben pagi banget berangkatnya? “ tanya Tina baru dateng.
“ iya nih, waktunya piket Green House. Tau ndiri kan, jadwal piket ku banyak banget.” Jawabku.
“ iya juga sih! Anak-anak belum pada dateng ya? Kok sepi!” tanya Tina.
“ belum nih, kamu kan tau, Nia, Naymal, ma Ratna pake jam karet!!! Pasti ntar dateng telat.” Tegas ku.
Pukul 07.00 bel sekolah udah berbunyi.
Pelajaran pertama waktunya Bahasa Jepang. Nia, Naymal, ma Ratna datang telambat dan dihukum di suruh minta ma’af ke semua teman2 pake bahasa jepang.
Pelajaran udah selesai. kita berlima pergi ke kantin bareng2 sambil cerita2.
“ huft sebel deh, hari ini kena hukuman. “ kata Nia, Naymal, and Ratna sambil cemberut.
“makanya, kalo berangkat, tu yang pagian dikit donk!! “ celetuk aku and Tina.
“ iya,,” jawab mereka kompak.
Kita menghabiskan waktu istirahat di kantin sambil bercerita tentang cowok. Di antara kita berlima, mungkin hanya aku yang belum pernah merasakan gimana rasanya pacaran. Tapi it’s okey. Pacar tidaklah penting.
“ Gimana sama bagus?? Masih jalan kah? Ato, lagi lampu merah?” canda Ratna ke Nia.
“ ah, hijau donk!!” jawab Nia.
“ kalo kamu Va?? Tanya Nia kepadaku.
“ heh?? Apanya???” tanyaku kaget.
“ ya kamu?? Udah ada??” tanya nia lagi.
“aduh!!! Kamu itu, pinter2 tapi lemot ya!! Kamu udah punya cowok belum?”  tegas Tina mulai esmoni, eh emosi.
“owh, itu! Belum nih, cari’in donk? Tau kan yang seperti apa??? Yang PINTER, GANTENG, TAJIR, PUNYA MOTOR, PUNYA RUMAH, PUTIH, PENDIEM, AND YANG TERPENTING RAJIN SHOLAT. “ jawabku.
“ what???????????????????” jawab mereka serempak.
“ hehehhehehehe. Enggak kok bercanda. Aku belum mikirin itu. Sekarang sekolah dulu aja. Ntar kalo udah waktunya pasti dapet.” Tegas ku ke mereka.
Bel masuk udah berbunyi. Semua siswa udah kembali ke kelas mereka masing-masing. Pelajaran berikutnya yaitu MATEMATIKA. Pelajaran yang begitu aku senangi. Waktu berjalan dengan cepatnya. Sampai akhirnya, bel pulang pun berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar kelas. Begitu juga dengan aku and temen-temen. Kita langsung menuju ke tempat parkir. Rumah kita memang nggak saling berdekatan. Tapi kita tetap sama-sama sampai di depan sekolah.
“ pulang dulu yach!!!” sapa ku ke teman-teman
“ okey, TT DJ (hati-hati di jalan).” Balas mereka serempak.
Aku selalu pulang sendiri. karena memang jarang sekali anak di desa ku yang sekolah disana. Sesampai dirumah, aku  terkadang di sambut oleh omelan-omelan kecil dari ibuku. Karena memang aku tergolong anak yang kurang sadar akan kesehatanku sendiri.
“Gimana tadi pelajarannya?? Ada yang sulit?? Truz tadi dapat apa aja?” tanya ibuku perhatian.
“alkhamdulillah, gak ada bu! Tadi dapet rumus baru di matematika tadi dapet LOGARITMA. Enak banget pelajaran itu,” jawabku.
Ibu selalu menanyai ku saat aku pulang sekolah. Beliau selalu perhatian dengan anak-anaknya. Setelah selesai ganti baju and makan siang, aku bergegas untuk mandi dan sholat dzuhur. Rencananya, hari ini aku mau pergi ke Toko Buku.
“Yah, Bu, berangkat!!” aku minta izin.
“ya, hati-hati. Baca do’a dulu.” Suruh ibu.
Waktu aku sampai di depan toko buku, aku melihat seorang anak laki-laki sedang sendirian di depan toko buku sedang melamun. Tapi, aku tak memghiraukan hal itu.”
“sama siapa Va?” sapa cowok itu.
“ eh, kamu. Sendirian nih. Kamu ngapain disini? Mau beli buku kah?” jawabku kepada cowok itu.
“ ya, abis beli buku. Sama refreshing. Kamu tau sendiri kan gimana kondisi di rumah??” jawab dia sedikit murung.
Rupanya dia itu salah seorang teman sedesaku. Dia itu Adi. Dia mempunyai ayah ibu yang nggak begitu merhati’in dia. Ayah ibunya sudah lama bercerai. Hal itu juga yang membuat dia menjadi anak yang tergolong nakal. Dia selalu mabuk-mabukan waktu ada masalah. Sebenernya aku risih dengan semua itu. Tapi mau gimana lagi. Urusannya udah beda lagi sama aku.
“oh, gitu ya. Ya udah, yang sabar aja ya.” Jawabku.
Mulai saat itu, aku sering bertemu dia di tempat yang sama. Sampai pada akhirnya, dia nyata’in perasaannya kepadaku. Aku merasa berterima kasih tentang rasa itu. Tapi memang aku nggak bisa nerima hal itu. Karena aku juga memikirkan perasaan ayah ibu di rumah. Adi mencoba meyakinkan aku tentang perasaannya kepadaku. Tapi aku sulit untuk menerimanya. Karena memang dia udah punya pandangan jelek di mata semua orang.
“ aku sekarang lagi nggak pengen pacaran. Aku pengen mikirin sekolahku dulu sampai lulus nanti.” Tegasku.
“ kenapa?? Ada yang salah dengan aku?? Kamu ingin aku berubah menjadi lebih baik? Okey, aku akan lakukan itu. Tapi kamu harus janji, kamu nggak akan pacaran sama siapapun sampai kamu lulus sekolah nanti. Dan kalau memang aku terbukti udah berubah, kamu harus mau sama aku.“ tegas dia sedikit kecewa.
“ oh, gitu, okey NO PROBLEM,, kita lihat ntar. Apa kamu bisa berubah jadi lebih baik apa malah menjadi buruk? Akan ku pegang janjimu baik-baik.” Tegasku.
Sejak saat itu juga, aku selalu menghindar dari dia. Aku mencoba menjauh darinya. Aku takut, dia akan berharap banyak sama aku. Aku tau, berubah nggak mudah. Tapi aku ingin dia menjadi manusia yang lebih berguna and also, menjadi lebih baik di mata orang-orang minimal di desa ku ini.
Setiap ada hal-hal aneh dengan adi, sahabatku di rumah selalu cerita denganku. Dia itu Dina. Dina selau cerita kerap kali dia bertemu dengan Adi. Akan tetapi, sesuai dengan anggapanku bahwa Adi akan sulit berubah. Dia nggak berusaha keras untuk berubah jadi lebih baik. Hal itu membuatku semakin risih dan malezzz banget untuk ketemu dia walaupun hanya tau di jalan. Tak ku sangka, dia jadi buronan polisi karena katahuan pake narkoba.
“ aduh,,, kug gitu yach???? Untung aja aku kemaren gak mau. Alkhamdulillah,,,” kata ku pada Dina.
“ hah,,, iya, untung aja. Nggak taunya dia kayak gitu. Astaghfirullohaladzim…..” jawab Dina.
Dengan kejadian itu, aku semakin senang karena bisa jauh dari Adi. Esok harinya, bertepatan dengan hari Jum’at, aku berangkat agak siang. Pas sanpai di sekolah, ternyata bel udah bunyi. Untung aja gurunya lum nyampek ke kelas. Hari ini jam pertama kesenian and jam terakhir adalah biologi. Aku seneng banget sama jam terakhir ini. karena gurunya sungguh mengasikkan. Namanya Bu Isti. Aku seneng banget bantu beliau kerap kali beliau kesulitan bawa buku and laptop waktu mengajar.
Bel pulangpun berbunyi. Semua bersorak ria keluar kelas. Tapi, berbeda dengan aku yang gak akan pulang karena harus ada rapat di salah satu organisasi di sekolahku.
“Kamu ikut rapat va?” tanya Fugo salah seorang temen satu organisasi denganku.
“ eh, kamu Go! Ya, aku ikut. Yuk,, kita cari yang lain!” ajakku.
Fugo adalah salah satu teman baikku. Dia selalu berusaha ada di saat temannya ada masalah. Aku sangat bahagia punya teman seperti Fugo. Dan tanpa disadari, diam-diam aku punya sedikit perasaan ke Fugo. Setiap aku di dekat Fugo, aku merasa senang dan nyaman. Aku nggak tau apa dia juga ounya perasaan yang sama sepertiku atau tidak. Sampai pada akhirnya aku cerita ke sahabat lamaku yang udah aku anggap seperti kakak aku sendiri. Dia itu Akisa.
“ kak, aku punya perasaan ke temen cowok aku di sekolah, aku bingung. Aku sebenernya nggak pengen punya rasa ini. soalnya aku tersiksa kalo punya rasa seperti ini. aku nggak bisa seperti dulu. Aku juga nggak tau perasaan dia ke aku itu gimana. Aku mesti ngapain kak?” tanyaku ke Akisa.
“ apa??? Adikku jatuh cinta?? Wah,, asyik ni..” goda Akisa.
“ah, kakak. Nggak asyik ni. Kok malah gitu sich??? Lagi bingung ni!! Aku mesti ngapain??” jawabku sambil cemberut.
“ hahaha.. Kalo menurutku, kamu juju raja ke dia gimana perasaanmu sebenernya. Nanti pasti kamu ngrasa sedikit lega.” Suruh dia.
“apa??? Ngomong ke Fugo??? Oh,, no no. gimana jadinya nanti kalo dia tau perasaanku yang sebenernya?
Dia pasti risih sama aku. Dia pasti menjauh dari aku. Ogah ah,,, yang lain gitu ke’. Yang lebih bagus dikit.” Jawabku sambil ngomel kecil.
“ehm,,, apa ya???? Ya Cuma itu jalan yang terbaik. Daripada kamu terus terusan pendem perasaan kamu. Mending di omongin ke orangnya langsung. Kan bisa plong. Minimal kamu udah keluarin semua beban di hati kamu.” Kata Akisa menasihatiku.
“ tapi??? Aku kan cewek! Masak cewek nembak cowok?? Ya nggak pantes lach. Pokoknya nggak ah!” tegas ku.
“ ya udah terserah kamu aja. Kalo nggak gitu kamu harus berusaha hilangin perasaan itu dari hatimu. Kamu harus sedikit demi sedikit lupain dia.” Tegas Akisa.
“ huft,,, bingung. Ya udah deh. Akan ku coba. Aku akan sedikit demi sedikit menghindar dari Fugo. Aku akan mencoba lupain dia. Meskipun itu sulit, aku harus bisa! Ganbatte(semangat)!!
Setelah aku dapet jawaban dari Akisa seperti itu, aku mencoba melakukan hal itu. Sedikit demi sedikt aku menjauh dari Fugo. Sampai pada akhirnya, perasaan itu sedikit demi sedikit kikis di hatiku.
Fugo memang terkenal baik di sekolah. Selain dia anaknya pendiam, dia juga sopan dalam bergaul. Dia selalu pantang menyerah. Dia tak pernah mengeluh walaupun dalam keadaan yang sangat payah. Dia juga mencoba selalu perhatian dengan semua teman temannya. Terutama cewek. Nggak pernah ada sedikitpun rasa buat menyakiti hati cewek ataupun mempermainkan hati cewek. Sampai pada akhirnya, dia disukai sama dua orang cewek sekaligus. Mereka adalal Lady dan Risa. Kedua cewek ini mempunyai watak yang bertolak belakang. Lady mempunyai sifat yang sangat ramai dan selalu berusaha dekat dengan Fugo. Kemana Fugo pergi, dia selalu ingin bersama Fugo. Sedangkan berbeda dengan Risa yang sifatnya begitu pendiam. Aku pun kaget ketika Fugo bercerita kalau Risa ngomong kalo suka dengan Fugo. Karena itu sungguh di luar dugaan. Gadis pendiem seperti Risa bisa mengungkapkan itu.
“ va, aku bingung harus ngapain? Aku nggak pernah mengalami seperti ini sebelumnya. Aku nggak tau harus ngapain. Aku bingung.” Curhat Fugo.
“makanya, kamu jadi orang jangan terlalu baik and perhatian. Gini kan jadinya, banyak yang kecantol sama kamu. Hahahaha kasian! Bingung kan?”
“ ah, kamu ni. Apanya sih yang baik dari aku? Aku ya kayak gini. Aku kan mencoba jadi teman yang baik. Aku pengen ada di saat temenku butuh. Terus aku mesti ngapain?”
“ kalo menurutku, kamu sedikit demi sedikit menghindar dari mereka. Kamu jangan langsung jauh dari mereka. Karena hal itu bisa menyakiti hati mereka. Lakukan hal itu secara bertahap. Hal itu perlu proses.”
“ jadi aku harus menghindar dari mereka? Nggak ada yang lain?”
“ ya itu terserah kamu. Kalo kamu pengen mereka nggak kayak sekarang ya lakukan itu. Kalo kamu masih pengen diperhatiin sama mereka ya nggak usah ngapa ngapain. Biarin aja. Biar waktu yng menjawab.” Tegasku.
“ kok gitu sich Va? Iya deh, aku akan lakuin itu.” Jawab Fugo dengan lirih.
“ lalu, kamu kalo di hubungi mereka kamu selalu jawab?”
“ ya iya, kan aku nggak enak. Ya selalu ta jawab.”
“ kalo kamu kayak gitu terus, kapan berakhirnya? Aku ngerti emang ada perasaan nggak enak. Tapi, kamu harus berusaha. Gimana mereka mau berubah kalo kamunya terus terusan ngasi harapan ke mereka?” tegasku lagi.”
“o,,, jadi gitu,, ya udah dech, aku akan mencoba lakukan apa yang kamu sarankan ke aku. Moga aja berhasil.”
Fugo mencoba menerapkan apa yang aku sarankan. Sampai pada akhirnya, Lady yang merasakan keanehan pada Fugo, dia marah dan merasa kecewa dengan Fugo. Fugo merasa bersalah dengan Lady. Lady memang tergolong orang yang mempunyai watak keras. Apa yang dia inginkan harus dia dapatkan. Fugo semakin bingung. Dia pun memutuskan pergi ke rumah Lady.
“ Lady, aku di depan rumahmu. Tolong kamu keluar rumah. Aku ingin menjelaskan semuanya kepadamu” kata Fugo di depan rumah Lady.
“ kamu mau menjelaskan apa lagi? Semuanya sudah jelas. Aku akan melakukan semua yang kamu inginkan. Aku nggak akan mengganggumu lagi. Aku akan buang rasa ini jauh jauh. Aku akan mejauh dari kehidupanmu.”
“ tolong kamu jangan seperti ini. aku sayang sama kamu. Tapi, aku sayang ke kamu hanyalah sebatas sayang kakak kepada adik. Aku nggak bisa. Aku nggak mau menyakiti hati kamu. Kita udah sama-sama sejak kelas X. aku nggak mau hubungan kita hancur hanya gara-gara masalah seperti ini. aku ingin kita bisa kayak dulu lagi.”
“o,, jadi itu mau kamu. Oke, mulai besok aku akan bersikap biasa seperti dulu. Malah lebih biasa dari yang dulu. Kamu tenang aja. Aku akan seperti dulu.”
“aku mohon kamu mengerti. Aku nggak mau menyakiti hati siapapun. Aku ingin kita bisa sahabatan kayak dulu lagi. Aku mohon kamu ngerti.”
“Ok.” Kata Lady kecewa.
“ kalo gitu aku pulang dulu. Tolong kamu bisa mengerti perasaanku skarang gimana. Aku nggak mau menyakiti hatimu.” Kata Fugo sedih.
“ Assalamu’alikum,, Va, ini aku Fugo. Kamu di rumah kan?” kata Fugo sambil mengetuk pintu.
“ wa’alaikumsalam,, ya, aku di rumah. Silahkan masuk. Tumben malem-malem kesini! Ada perlu apa? Kok wajah kamu kusut kayak gitu? Badan kamu juga lemas gitu. Kamu kenapa? Kamu sakit? Kenapa nggak di rumah aja? Bahaya tau. Tidur aja gih di sofa.”
“ aku bingung. Badanku lemas. Aku dari rumah Lady. Aku habis cekcok sama dia. Kayak kamu sama dia dulu. Aku nggak kuat pulang. Aku mutusin buat istirahat sebentar disini. Daripada aku jatuh di jalan.” Fugo menjelaskan.
“ o, jadi gitu. Ya udah tidur aja di sofa. Kalo udah kuat cerita, ya cerita aja. Nggak apa-apa.” Jawabku.
“ aku bingung, aku ngrasa bersalah banget. Dia marah. Dia nggak mau aku kayak gini. Dia kecewa sama aku. Tapi mau gimana lagi? Aku memang nggak bisa bohongin diri aku. Aku nggak mau nyakitin hatinya. Aku Cuma bisa sahabatan sama dia. Nggak lebih.”
“ kamu nggak usah ngrasa bersalah yang sedalam dalamnya. Aku ngerti. Mungkin dia sakit Karena kamu nggak bisa bales perasaannya. Aku yakin, suatu saat nanti dia akan sadar dan tau mana yang terbaik.”
Sejak saat itu, hubungan Fugo dan Lady menjadi dingin. Tetapi, saat seperti itu tak bertahan lama. Hanya berlangsung selama 1 bulan. Hubungan mereka kembali membaik. Tak lama setelah itu,, fugo datang ke rumah ku dan akupun sontak di buatnya terkejut. Dia dating ke rumahku untuk menyatakan perasaannya kepada aku.
“ Va, aku nggak tau harus ngapain. Semenjak aku dekat dengan kamu dan kamu selalu ada saat ku ada masalah, aku jadi ada feell ke kamu. Aku nggak maksa. Semua itu tergantung keputusan kamu. Aku akan menunggu jawaban dari kamu besok di sekolah.”
Aku terkejut dan tak tau apa yang harus aku lakukan. Semalam penuh aku berfikir. Dan pagi pun dating. Saatnya aku ke sekolah.
“ pagi va! Gimana kabarnya? Baik?” tanya Fugo sambil tersenyum padaku.
“ ya,, pagi juga. Baik kok.” Jawabku sedikit malu.
“ gimana? Jadinya gimana? Fugo meminta jawaban.
“ uwm,,, aku bingung. Aku bukanlah cewek yang sempurna. Tapi aku kan mencoba kan selalu ada untukmu. Di saat kau sedih dan senang.” Jawabku sambil tersenyum.
“ beneran fa??? Alkhamdulillah,,,, makasi ya,, I will always for you….



0 comments:

Post a Comment

There was an error in this gadget

Free SMS

sobat blogger ga ada pulsa? mau sms gratis via internet? 100 % free lo kawan. BUKTIIN !!

Me

My Photo
safita nurmalyya
bukan dari keluarga lebih, tak punya tampang lebih dan tak punya semua yang lebih. dengan ketidak lebihan itu berjuang menjadi lebih. Hope somedays be an army and scientist..
View my complete profile

Followers

Jejak Si Pemurah Hati

Powered by Blogger.